Tidak banyak yang tahu silat otar-otar. Jenis silat ini hanya ada di Dusun Kota Lama, Desa Ratu Sepudak, Galing, Sambas. Beladiri yang dipadukan dengan seni ini jarang dipertunjukan lagi walau di tempat asalnya. Meskipun bertahan ratusan tahun, namun otar-otar tidak meluas.
Diiringi alat musik sederhana, gendang dan tawak, dua orang pesilat siap-siap saling serang. Keduanya membawa tongkat pemukul disebut mambu dan tameng. Pesilat memberi hormat, kemudian membuka jurus. Serang. Gerakannya bervariasi mengikuti irama musik. Musik mendayu pesilat gemulai. Musik cepat dan keras pesilat lincah. Walau saling serang keduanya tidak melukai. Satu menyerang yang lain menangkis, begitu sebaliknya.
Ketua perguruan silat otar-otar Marwan mengatakan, jenis beladiri ini merupakan warisan nenek moyang. Bermula dari Kerajaan Ratu Sepudak yang berdiri sekitar abad ke 16 Masehi. ”Di sinilah bermulanya otar-otar kemudian turun-temurun hingga sekarang. Kerajaan Ratu Sepudak adalah cikal bakal Kerajaan Sambas dengan raja Raden Sulaiman atau Sultan Muhammad Safiuddin I,” katanya.
Secara hirarki silat otar-otar diciptakan Bujang Neker sekitar tahun 1762 sampai sekarang turun-temurun. Marwan sendiri merupakan keturunan keempat. Sepeninggalan Bujang Neker, otar-otar dilanjutkan oleh Bakren sebagai penerus kedua. Selanjutnya beladiri ini dipimpin Momod. Setelah Momod meninggal dunia otar-otar dipimpin Asun hingga 2001. ”Setelah itu baru saya yang memimpinnya hingga sekarang,” ujar Marwan.
Dijelaskan Marwan, otar-otar merupakan gabungan dari silat, kuntau dan tari. Dipercayai silat ini diperoleh memalui pertapaan yang dilakukan berhari-hari di hutan. Bertapa juga ditujukan untuk menyelaraskan bela diri dengan alam sekitar. Saat bertapa Bujang Neker teringat tameng yang dipakai pengawal Raja Ratu Sepudak yang dilengkapi tombak. Tameng pengawal saat itu dapat diputar-putar. Selepas itu Bujang Neker tidak pernah melepas tameng, dia selalu membawanya. Tameng dari besi yang berbentuk setengah lingaran dan sampai sekarang masih bisa dijumpai. ”Terinspirasi dengan tameng yang dapat diputar-putar tersebutlah beladiri ini dinamakan otar-otar,” katanya.
Selain keahlian khusus, sebelum memulai aksinya pesilat juga membaca mantra. Marwan mengatakan, tujuannya agar pesilat lebih menghayati setiap gerakan yang dilakoninya. Sehingga penonton senang dan takjub melihatnya.
Ada beberapa gerakan dalam otar-otar, antara lain belabat : cara menangkis serangan lawan yang menggunakan anak panah atau pedang. Jurus pun bermacam-macam, ada yang namanya jurus tanam tebu, paras gantang dan sarung gunting. ”Sedangkan cakak ada tiga macam, kucing, harimau dan sekumbang kain,” paparnya.
Sulit menyaksikan otar-otar sekarang. Kalau dulu setiap pesta perkawinan di Kota Lama selalu ada pertunjukan beladiri ini. Namun sekarang tidak semua perkawinan ada, tergantung yang punya hajat bersedia atau tidak. ”Paling sekarang saat kawin saja dimainkan atau menerima tamu. Tapi tidak semua orang kawin ada otar-otar, tergantung yang punya pesta,” ungkap Marwan.
Pemain musik dan pesilat pun sudah berumur. Dikhawatirkan punah, Marwan mencoba menurunkannya kepada anak-anak. Ada beberapa siswa SD dan SMP yang mulai belajar. ”Mudah-mudahan tidak punah,” harapnya.(*)
Sabtu, 31 Desember 2016
Otar-otar, Beladiri Kerajaan Sambas yang Hampir Punah
Labels:
SEJARAH/BUDAYA
SEJARAH/BUDAYA
Author: Hendy Erwindi
Waythemes is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design
Labels:
SEJARAH/BUDAYA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar