Penulis membagi tulisan ini dalam empat bagian,
yakni perkampungan, pasang surut, nelayan, dan foklor. Tujuannya sebagai
klasifikasi, karena masing-masing bagian memiliki cerita tersendiri dan menarik
untuk ditelisik lebih jauh.
Pertemuan
Sungai Sekayam dan Kapuas. Di dekat lokasi ini berdiri Keraton Sanggau. (foto:
Hendy)
Perkampungan
Pinggir Sungai Kapuas di Sanggau baru ramai
oleh perkampungan sekitar abad ke-19. Sebelumnya, masyarakat berdiam di dalam
anak sungai. Pinggir Kapuas hanya menjadi tempat persinggahan. “Bermukim di
dalam anak sungai Kapuas karena alasan keamanan,” ungkap Amrin Zuraidi
Rawansyah, pemerhati sejarah dan budaya Sanggau. “Berbeda dengan kawasan kemat
pusat pemerintahan Kerajaan Sanggau yang sebelum abad ke-19 kawasan itu memang
sudah rami.”
Perjanjian Tumbang Anoi, Kalimantan Tengah pada
1894 sedikit banyak memberi dampak pada pola permukiman masyarakat di Sanggau.
Pascaperjanjian itu barulah permukiman di pinggir sungai di Sanggau berkembang.
Isi perjanjian Tumbang Anoi antara lain, penghentian perang antarsuku,
antardesa, antarkeluarga, dan mengayau. “Setelah merasa aman, masyarakat yang
bermukim di dalam sungai keluar, karena memang Sungai Kapuas adalah jalur utama.
Sejak saat itu perkampungan di pinggir Kapuas mulai tumbuh,” ucap Amrin.
Apa yang disampaikan Amrin digambarkan oleh P.J.
Veth dalam bukunya Borneo Bagian Barat, Jilid I yang dipublikasikan pada 1854.
Dia menyebut jumlah penduduk Sanggau sekitar 30.000 orang. Veth tidak banyak
menyebut perkampungan di Sanggau waktu itu, hanya tiga permukiman yang menjadi
perhatiannya. Negeri induk Sanggau di muara Sungai Sekayam dengan jumlah rumah
diperkirakan 120 buah. Kemudian Samarangkai/Semarangkai, terletak di hilir
negara induk dengan 37 rumah. Selanjutnya Mengkiang di Sungai Sekayam dengan 34
rumah.
Berbeda dengan P.J. Veth, H.P.A Bakker dalam Het
Rijk Sanggau yang diterjemahkan dari buku Indische Taal; Land; en
Volkenkunde menjelaskan lebih rinci tentang perkampungan di Sanggau. Bakker
lebih tertarik pada aliran Sungai Sekayam yang bermuara di Kapuas. Dia menyebut
Sungai Sekayam adalah urat nadi Kerajaan Sanggau waktu itu. “Sebab kemunculan
Ibu Kota Sanggau dimungkinkan karena adanya sungai ini, dan tanpa Sungai
Sekayam yang mengalir ke situ, tempat ini tidak dapat hidup.”
Masih di muara Sekayam, di bagian yang lain
dari pusat pemerintahan, Bakker menyebut ada Kampung Tanjung dan Silat. Di
ujung barat, terletak Pasar Cina Kecil.
Senada dengan Veth, Bakker mengatakan
Semarangkai merupakan permukiman kedua terbesar di Sanggau setelah pusat
pemerintahan. Di bagian hulu Bakker menyebut ada kampung baru yang dinamai
Pengaladi/Penyaladi. “Lebih jauh ke hulu ada Ingir/Ingis dan Kedukul yang dekat
dengan perbatasan dengan Sekadau.”
Sama dengan daerah lain di Indonesia pada
umumnya, perkampungan di Sanggau dominan diambil dari nama sungai dan tanaman. Pemerhati
budaya dan sejarah Sanggau, Amrin Zuraidi Rawansyah menyebut nama-nama daerah
itu antara lain, Nanga Biang, Kedukul, Liku yang berasal dari nama Sungai Biang,
Sungai Kedukul, dan Sungai Liku. Sungai-sungai itu bermuara ke Kapuas. Lain
lagi dengan Sungai Muntik, Sungai Tapang, Pelaik. Perkampungan tersebut diambil
dari nama buluh muntik, pohon tapang, dan pohon pelaik. Ada juga
perkampungan yang diabadikan dari suatu peristiwa. “Contohnya Kayu Tunu. Sebelum
menjadi perkampungan, kawasan itu merupakan hutan yang ketunu akibat
pergesekkan kayu sehingga menimbulkan panas dan percik api, kemudian melolat
ke hutan di sekitarnya,” Amrin menceritakan.
Sebagai jalur utama transportasi, pada awalnya rumah-rumah
penduduk menghadap ke Kapuas. Saat ini, setelah jalan raya menggantikan peran tersebut,
banyak rumah yang membelakangi sungai. Bahkan siok (bagian rumah paling
belakang sebagai tempat mencuci piring) menjorok ke sungai sehingga limbah
rumah tangga terbuang langsung ke Kapuas. Meskipun begitu, sungai tetap tidak
tergantikan untuk mandi, besosah, bebasok, mencari ikan, kayu api,
dan moda transportasi. Sebagian masyarakat tetap mempertahankan keberadaan jamatn.
Tidak hanya untuk buang air, besosah, atau bebasok, jamatn
juga difungsikan sebagai tambatan perahu bahkan dermaga.
Sebagai sumber air bersih, sudah jarang
masyarakat memanfaatkan air Kapuas. Bagi yang tidak teraliri air PDAM
(perusahaan daerah air minum), mereka mengambil air dari anak-anak sungai atau
lebih memilih air hujan. Untuk keperluan lainnya di rumah, air Kapuas masih
digunakan. Namun, jarang lagi masyarakat yang encibok air. Lebih banyak
menggunakan mesin penyedot untuk mengaliri air dari sungai ke rumah.
Perkembangan perkampungan di Sanggau khususnya
Kapuas dan Mukok tidak banyak berubah sejak abad 19. Konsentrasi penduduk dan
aktivitas masih didominasi di sisi kibak Kapuas, jika mudik. Begitu juga
di sepanjang Sungai Sekayam, lebih banyak kecamatan di sebelah kibak
sungai yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Pasang Surut
Pasang surut Sungai Kapuas di Sanggau sampai ke
hulu berbeda dengan di muara. Di muara, Pontianak, Kubu Raya, dan sebagian
Mempawah pasang surut sungai terjadi hampir setiap hari, sesuai kondisi air
laut. Sedangkan di perhuluan, pasang surut dipengaruhi musim. Jika intensitas
hujan meningkat muka air sungai naik. Sebaliknya, jika kemarau, debit air berkurang.
Bahkan kering sampai ke dasar sungai.
Saat debit air Kapuas tinggi, masyarakat tidak
mencari kayu api di darat. Batang atau cabang yang hanyut diambil untuk kayu
api. Mereka biasanya menggunakan perahu, mengayuh melawan arus. Tidak sulit
mencari kayu keras yang pantas sebagai kayu api. Mereka cukup
menghampiri kapar atau rumah kapar yang hanyut dengan perahu. Kapar
adalah sampah organik yang hanyut di sungai terdiri atas batang, cabang, dan ranting.
Sementara rumah kapar adalah kumpulan kapar yang menyatu.
Cabang dinaikkan ke perahu, sedangkan batang
diikat dengan tali kemudian ditarik ke pinggir. Kadang batang langsung ditotak menggunakan gergaji belidak. Pekerjaan ini membutuhkan dua orang untuk
memegang kedua ujung gergaji kemudian ditarik dan didorong agar kayu tergesek.
Baru setelah itu kayu dipiyak menggunakan kapak untuk kemudian dijemur.
Sedangkan cabang, cukup ditotak dengan parang sebelum dijemur. Mencari kayu
api dengan perahu dilakukan saat air tidak terlalu garis. Saat air
sungai garis, apalagi engkujuh, mereka tidak melakukannya.
Bagi nakbiak sungai adalah tempat begurau.
Saat pasang, jika air pena/penda menyentuh kenamikng (tebing pembatas
sungai dan daratan), mereka biasanya bermain dengan cara merojok dari
atas pohon ke sungai. Ada dari mereka yang mengikat liana atau tali ke batang
pohon yang menjorok ke sungai, kemudian bergelayutan. Mereka melepaskan
pegangan pada liana, menghempaskan dirinya ke sungai.
Pada lain masa, anak-anak berenang ke tengah
sungai, naik ke rumah kapar. Mereka mutik biji karet dan
pelanyau, kemudian berenang lagi ke tepian. Selanjutnya mereka bedodas
ke hulu dari pinggir sungai untuk menunggu rumah kapar yang hanyut. Itu
bisa dilakukan berkali-kali. Baru berhenti kalau colap, tubuh engkotok, dan jemari tangan sudah kosat (telapak
tangan mengerut karena dingin). Selain karena alasan tersebut, nakbiak
baru berhenti bermain di sungai jika orang tua menciak/enciak (berteriak
dengan suara melengking) meminta mereka pulang.
Anak-anak
bermain saat Kapuas pasang. Mereka mengikat tali ke cabang pohon kemudian
bergelantungan. (foto: Hendy)
Saat kemarau panjang, di kawasan tertentu,
Kapuas akan kering sampai ke dasar. Pada saat itu di Sanggau, dasar Kapuas yang
berpasir kerikil, dapat dilihat mulai dari Muara Sekayam ke hulu, sampai ke
Muara Engkayas. Dasar sungai yang kering menjadi tempat wisata. Ada yang bermain
sepak bola atau hanya begoyap. Bahkan sering diadakan keramai
tujuh belasan di tempat itu. Warga setempat menyebut kondisi itu sebagai kerosik
timul.
Selain bermain di kerosik timul, saat
kemarau ada anak-anak yang enciraw (mencari benda yang masih dapat
digunakan atau bernilai di pinggir sungai). Mereka menyusuri pinggir sungai
mencari apa saja. Antara lain koin, suduk, batu dan mata pancing, serta
benda lainnya yang masih dapat digunakan. Benda-benda tersebut tenggelam saat
pasang, baru dapat ditemukan ketika sungai kering.
Pinggir sungai kering dengan kemiringan yang
curam dimanfaatkan juga oleh sebagian anak sebagai perosotan. Mereka membawa
air ke bagian atas, dekat kenamikng, kemudian duduk dan membiarkan
dirinya meluncur ke sungai. Berulang kali meluncur di antong (tempat) yang
sama, tanah akan cekung seperti parit. Jika cekungan itu kering, mereka akan membawa
air untuk membasahinya dari atas agar licin, kemudian meluncur lagi.
Koti pun baka, sungai tetap sebagai ruang terbuka
hijau yang luas dan lengkap, anugerah dari Yang Maha Kuasa.
Nelayan
· Perahu
Dalam mencari ikan, banyak cara digunakan oleh
nelayan di Sanggau. Alat transportasinya beragam, tetapi berciri. Misalnya
perahu, perbedaan nama diklasifikasikan dari cara molah. Ada tiga jenis
perahu yang umum digunakan nelayan di Sanggau. Perahu tobok, perahu timaw,
dan perahu papan. Perahu tobok, dibuat dari batang kayu yang dibelah
kemudian dilubangi. Perahu timaw juga dibuat dengan batang kayu yang
dilubangi. Bedanya perahu timaw ditambah papan pada kedua sisinya untuk
memperbesar ukuran. “Perahu papan, semua bahan baku dari papan,” kata Amrin
Zuraidi Rawansyah.
Sudah lumrah jika perahu disertai dengan
perlengkapan utama seperti dayung. Namun, ada pula perahu yang dilengkapi
dengan kemudi ensurong/surong. Perlengkapan ini malar dipakai
oleh nelayan yang merawai. Kemudi ensurong dibuat dengan papan yang
panjangnya sekitar 50-100 centimeter dan lebar sekitar 20 centimeter. Kemudi ensurong
ditaruh di putn perahu. Sebagian sisinya di dalam air, bagian atasnya
dilubangi untuk memasang kayu. Kayu tersebut melintang di atas perahu. Ujung
kayu yang melintang diikat dengan bambu. Bambu tersebut panjangnnya sama dengan
perahu. Mengemudikan perahu hanya dengan menarik atau mendorong ujung bambu.
Jadi, pengayuh hanya berfungsi untuk memajukan atau memundurkan perahu. Mengatur
arah sepenuhnya menggunakan ensurong.
“Bedanya perahu dengan kemudi ensurong
dan tidak, dapat dilihat dari posisi orang yang mengayuh. Entik orang yang
mengayuh berada di luan berarti menggunakan ensurong. Sebaliknya entik
mengayuh dari putn perahu, artinya tidak memakai ensurong,” jelas
Amrin.
Ada perahu bermesin. Ukurannya lebih panjang.
Selain sebagai alat transportasi, ada juga nelayan yang menggunakannya. Perahu
bermesin di Sanggau berbeda dengan yang digunakan nelayan di muara Kapuas.
“Di
sekitar muara, di Kabupaten Kubu Raya nelayan menggunakan mesin kato, perahunya
pendek. Nelayan di Sanggau sampai Kapuas Hulu mesinnya lebih kecil perahunya
pun ramping. Umumnya lebar satu sampai satu meter setengah, panjangnya lima
sampai enam meter. Perahu ramping dipilih karena alasan arus. Sungai yang deras
memang lebih ideal menggunakan perahu ramping,” Ungkap Amin, teknisi mesin
nelayan dan pembuat perahu asal Pontianak.
· Alat Tangkap
Di Sanggau saat banjir atau pasang masyarakat
sering memasang seruak. Alat tangkap ini khusus untuk ikan kecil seperti
seluang, kepek, bantak, jajau, dan yang lainnya. Seruak adalah alat
tangkap yang bersifat perangkap berbentuk tabung dipasang berdiri ditopang
tongkat yang menancap ke tanah. Dindingnya dibuat dari batang rosam/resam.
Tempat menyimpan umpan dibuat dengan bambu yang dipasang di dinding seruak.
Bagian buku bambu di luar, sisi lainnya di dalam seruak. Tengah bambu dilubangi
tempat menyimpan umpan. Ikan yang memakan umpan akan masuk ke dalam mengikuti
lubang bambu sehingga terperangkap di seruak. Ikan tidak dapat keluar
karena di ujung bambu di bagian dalam seruak dipasang surai berbentuk kerucut. Sekarang,
seruak banyak dibuat dari botol minuman gosak praktis dan mudah
mendapatkannya.
Selain seruak, ada pukat yang juga
menarik untuk ditulis karena banyak jenisnya. Jenis pukat diklasifikasi
berdasarkan bentuk, cara menggunakan, dan ikan yang disasar. Berdasarkan jenisnya,
paling tidak pukat dibagi menjadi dua. Yaitu pukat ronam dan pukat anyut.
“Pukat ronam mencapai dasar sungai. Biasanya dipasang di muara anak
sungai. Kadang juga dipasang di tolok. Target utamanya ikan patin,” kata
Fendy, warga Pudu, Kelurahan Beringin.
Pukat anyut penggunaannya dihanyutkan
dengan perahu mengikuti arus. Nelayan akan melihat kondisi arus jika hendak
menghanyutkan pukat. Air sungai yang garis bukan kondisi baik untuk
memukat. Sebaliknya jika air tenang, arusnya tidak garis banyak nelayan menghanyutkan
pukat. Pukat anyut menggunakan pelampung agar bagian atas timbul. Pelampung
bisa dari bekas selup atau potongan papan. Bagian bawah dipasang batu
dari timah agar pukat tidak melayang dibawa arus.
Lain lagi nganguh. Sama-sama memukat
dengan cara mengikuti arus, tetapi nganguh dilakukan pada malam hari.
Dari awal malam sampai subuh. Anguh adalah pukat yang menggunakan batang
bambu sebagai pelampung, namun tidak putus-putus. Satu batang bambu dipasang
sepanjang pukat. Saat nganguh, sambil hanyut mengikuti arus, nelayan
memukul-mukul air agar ingar. “Nganguh dilakukan di pinggir. Saat
malam biasanya ikan istirahat sebelum bermigrasi ke hulu pada siang hari.
Sengaja diingar agar ikan bergerak kemudian ngeradak pukat. Nganguh
dilakukan semalaman. Kalau mengantuk nelayan tidur di rangkang. Tidak
pulang sampai pagi,” Fendi menjelaskan.
Pukat juga diklasifikasi berdasarkan ikan yang
disasar. Beda ikan, lain pula besar jaring. Ada pukat jajau, seluang, kenyuar,
dan pukat kelabau. Paling besar nelayan Sanggau menyebutnya pukat juara. “Pukat
juara sering digunakan pada malam hari,” ungkap Fendy.
Jenis pukat yang klasifikasinya berdasarkan
pada jenis ikan hanya memudahkan nelayan membedakannya. Sejatinya, perbedaan
jenis itu dapat dilihat dari ripang (lubang jaring). Ripang yang
kecil akan mendapat ikan kecil juga seperti jajau dan seluang. Pun dengan ripang
besar, targetnya adalah ikan besar antara lain patin atau juara.
Ada pula imang. Alat tangkap ini juga
menggunakan jaring dan bambu. Jika dijontang bentuknya segi tiga. Dua
bilah bambu diikat di dekat pangkal. Tidak jauh dari pangkal dipasang bambu
pendek disebut kokang. Kokang dipasang ketika bambu sudah dijontang.
Fungsinya agar dua bambu panjang sebagai tempat mengikat jaring melebar. Jaring
diikat dari ujung bambu sampai ke kokang. Imang digunakan di bibir sungai atau
dari atas jamatn. Ripang imang ada yang kecil ada juga lebar,
menyesuaikan ikan yang ditarget. Nelayan menggerakan imang mengikuti
arus. Jika ada ikan yang mudik melawan arus akan terperangkap di imang.
Alat tangkap lainnya yang digunakan nelayan di
Sanggau adalah posat. Jaring berbentuk segi empat yang ditopang dengan
bambu. Berbeda dengan imang, posat tidak digerakkan ke hilir atau
ke hulu. Alat tangkap ini hanya ditenggelamkan, dibiarkan beberapa saat baru
kemudian diangkat. Targetnya ikan kecil. Antara lain, bilis atau seluang.
Bedanya lagi, jika imang menggunakan dua bambu sebagai penopang, sedangkan
posat memakai satu bambu. Bambu itu juga berfungsi sebagai pemugut.
Alat tangkap dengan mata pancing juga beragam. Untuk
menyederhanakannya, memancing dapat diklasifikasi menjadi dua. Yaitu tunguk
dan tajur. Mancing tunggu maksudnya, pemancing duduk menghadap baur.
Sementara tajur maksudnya pancing yang ditinggalkan, kemudian diperiksa
pada waktu tertentu.
Tajur banyak lagi jenisnya. Di antaranya rawai. Mata pancingnya banyak,
dipasang berjarak. Mata pancing berukuran besar menyesuaikan dengan target.
Rawai ditajur di bagian tengah sungai. Talinya puluhan meter. Nelayan
memasang batu sebagai pemberat agar rawai tidak hanyut. Batu di dasar dikobat
tali yang disambung dengan bambu. Bambu timbul di permukaan air sebagai kecalak
rawai.
Nelayan biasanya ngabas rawai tiga
sampai empat kali sehari. Lolam, tengah hari, behari/bawah ari,
dan malam. Perahu untuk merawai menggunakan kemudi ensurong/surong. Tujuannya
agar arah perahu stabil, karena saat mengangkat rawai mereka tidak dapat
mengarahkan perahu dengan kayuh. Kedua tangannya sibuk melepaskan ikan dari
pancing jika bulih, dan memasang umpan.
Nelayan Sanggau juga membedakan sebutan
memancing udang dan ikan. “Ngael udang disebut ngunyat. Kalau
ikan biasa saja, ngael ikan. Tapi kalau ngael ikan kecil seperti
seluang, kepek, bantak, dan lainnya disebut nyimpar,” Rahmat, warga
Kampung Ensilat menjelaskan.
Ada tajur jenis lain dengan mata pancing
tunggal. Tajur tunggal ini dipasang di pinggir sungai. Nelayan
membedakannya menjadi dua, tergantung targetnya. Jika targetnya ikan besar
disebut rabay. Yaitu tajur tunggal yang dipasang dengan bambu
berukuran dua meter atau lebih. Bambu ditancapkan ke tanah.
Tajur tunggal lainnya tidak ada penyebutan khusus, mata pancing diikat ke
kayu atau bambu panak. Terkadang hanya diikat menggunakan ranting pohon
yang tumbuh dipinggir sungai. “Rabay dan tajur tunggal ini menggunakan
umpan hidup. Bisa ikan, bisa juga kocai. Mata pancing tidak sampai ke
dasar. Umpan dibiarkan mengapung di permukaan air. Memasangnya sore, karena
malam hari ikan ke pinggir, ke tempat mabuk dan arus tidak terlalu
deras,” papar Rahmat.
Selain jenis-jenis yang dipaparkan tersebut
alat tangkap lain yang umum adalah jala. Tidak perlu dijelaskan secara detail
karena jala lumrah di banyak tempat. Dan, masih banyak lagi alat tangkap
lainnya yang digunakan nelayan Kapuas maupun Sungai Sekayam di Sanggau.
Imang sebagai
salah satu alat tangkap yang digunakan nelayan di Sanggau (foto: Rahmat)
·
Bauk
Ada waktu tertentu yang ditunggu-tunggu oleh
masyarakat pinggir sungai. Yaitu ketika ikan mudik dalam waktu bersamaan dalam
jumlah banyak. Kejadian ini disebut bauk. Saat itu ramai-ramai
masyarakat turun ke sungai sambil membawa alat tangkap, apa pun jenisnya. Ada
yang membawa posat, imang, jala, atau pukat. Ikan yang mudik lebih
banyak ikan kecil dari jenis seluang dan bantak. Bauk sering terjadi ketika
kemarau yang panjang atau saat pasang rayap. Pasang
rayap adalah banjir yang debit sungai di atas kenamikng.
Bauk tidak berlangsung lama. Biasanya satu pekan. Namun, ada waktu-waktu
tertentu bauk mencapai puncaknya. Ketika ada nelayan yang mengetahui kondisi
ini, mereka akan mangkas memberi informasi kepada warga lain. “Bauk…..bauk….bauk,”
demikian teriakannya. Warga di darat yang mendengarnya serta-merta turun ke
sungai, tidak peduli usia dan gender. Selain turut menangkap perempuan biasanya
bertugas mensiang ikan.
Foklor
Di Sanggau ada legenda gulong uwi. Makhluk
yang dipercayai oleh sebagian masyarakat sebagai penghuni Sungai Kapuas. Gulong
artinya gulung, sedangkan uwi adalah rotan. Bagian perut atau bawah
punggung makhluk ini sangat tajam.
“Jika melintasi kerikil, kerikil menjadi
tepung. Melintas di atas batu, batu terbelah. Kalau kita guring kemudian
gulong uwi melintas di atas perut, kita ajom ngasa perut sudah putus,”
cerita Samsudin (60).
Legenda ini tidak banyak diketahui generasi
yang lahir era 90-an. Ilham (22)
contohnya, saat ditanya tentang gulong uwi, dia mengaku tidak mengetahuinya. “Mada
kalak ninga ah,” jawabnya.
Ada
pula cerita rakyat yang berkaitan dengan sejarah. Tentang Kerajaan Pontianak
yang gagal menyerang Sanggau. Rakyat Kerajaan Sanggau waktu itu bersuka cita
kemudian mengabadikannya dalam pantun. J.U. Lontaan menulisnya dalam Sejarah
Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, Edisi I tahun 1975. Berikut
pantunnya:
Akar sait berlilit-lilit
Melilit di belakang kuta
Sultan Syarif mudik bebalik
Takut ditemak lela bujang melaka (*)
Kegagalan
penyerangan terhadap Kerajaan Sanggau dikaitkan dengan pertahanan di hilir
pusat pemerintahan, di kawasan Pancur Aji. Sebuah kelokan sungai sekaligus
teluk yang ini masuk dalam administrasi Kelurahan Beringin. Budayawan Sanggau,
M Rivai Nafis mengabadikannya dengan lagu. Dalam lagu tersebut dia juga menyebut
legenda lainnya. Yakni, sebuah sistem pertahanan di hulu pusat pemerintahan di Batu
Lamai Dara. Batu yang menghampar di dasar sungai itu akan terlihat jika musim
kemarau. Saat ini Batu Lamai Dara masuk dalam Kelurahan Tanjung Kapuas. Berikut
lagu lirik lagu Pancur Aji:
Pancur Aji nama tolok nama munguk
Pakai benteng Negeri Sangau jaman doluk
Musuh nyorang dihalang ulih dua pengompang
Seutas rantai bujur bejontang melintang sungai
Penunguk kedua paling ditakut musuh nang
nyorang
Lela keramat bujang malaka siap beperang
Benteng kedua di ulu kota nyaruh caranya
Atas tepian batu ampar lamai dara
Musuh datang digoda rayu dara jelita
Bala penyorang lupak kemaksud larut tegila
Piyak cara supaya perang ajom tejadi
Dikaji dipolah para pendekar beilmu sakti (**)
Lagu
Pancur Aji ciptaan M Rivai Nafis, dinyanyikan oleh Juliansyah (sumber: youtube)
Demikian
masyarakat Sanggau, khususnya di pinggir Kapuas merawat ingatan. Selain
menceritakan langsung mereka juga mengabadikannya lewat pantun atau lagu.
Namun, jika tidak teruskan bukan mustahil foklor tergerus masa. Begitu
juga dengan budaya di pinggir Kapuas secara umum. Ancamannya nyata, namun tidak
serta-merta terasa. Perkampungan, nelayan, atau pola hidup dapat saja berubah
jika lingkungannya tidak dijaga. “Setidaknya ada lima hal yang mengancam Kapuas, perkebunan skala besar,
PETI (pertambangan emas tanpa izin), tambang pasir, permukiman penduduk dan
industri tanpa pengolahan limbah, serta sampah,” Kiki Priyo Utomo, tenaga
pengajar Prodi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura,
mengingatkan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar