Sabtu, 29 Agustus 2020

Enciraw

    Kapuas merupakan sungai terpanjang di Indonesia. Sungai ini melintasi enam kabupaten dan satu kota di Kalimantan Barat dengan panjang sekitar 1.143 kilometer. Kehidupan masyarakat di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Kapuas kait-mengait karena akulturasi budaya akibat interaksi sosial. Jika dipurih, masyarakat yang berdiam di pinggir sungai masih memiliki ikatan keluarga. Namun, masing-masing daerah dari hulu sampai muara punya bab masing-masing untuk dikisahkan.
    Tulisan ini tentang ekosistem Sungai Kapuas di Kabupaten Sanggau. Meskipun ada lima kecamatan di kabupaten ini dilintasi Sungai Kapuas, yakni Toba, Tayan, Meliau, Kapuas, dan Mukok. Namun, dari sisi linguistik, tulisan ini lebih banyak mewakili istilah lokal dan dialeg masyarakat Kapuas dan Mukok.
    Penulis membagi tulisan ini dalam empat bagian, yakni perkampungan, pasang surut, nelayan, dan foklor. Tujuannya sebagai klasifikasi, karena masing-masing bagian memiliki cerita tersendiri dan menarik untuk ditelisik lebih jauh.
Pertemuan Sungai Sekayam dan Kapuas. Di dekat lokasi ini berdiri Keraton Sanggau. (foto: Hendy)


Perkampungan
    Pinggir Sungai Kapuas di Sanggau baru ramai oleh perkampungan sekitar abad ke-19. Sebelumnya, masyarakat berdiam di dalam anak sungai. Pinggir Kapuas hanya menjadi tempat persinggahan. “Bermukim di dalam anak sungai Kapuas karena alasan keamanan,” ungkap Amrin Zuraidi Rawansyah, pemerhati sejarah dan budaya Sanggau. “Berbeda dengan kawasan kemat pusat pemerintahan Kerajaan Sanggau yang sebelum abad ke-19 kawasan itu memang sudah rami.”
    Perjanjian Tumbang Anoi, Kalimantan Tengah pada 1894 sedikit banyak memberi dampak pada pola permukiman masyarakat di Sanggau. Pascaperjanjian itu barulah permukiman di pinggir sungai di Sanggau berkembang. Isi perjanjian Tumbang Anoi antara lain, penghentian perang antarsuku, antardesa, antarkeluarga, dan mengayau. “Setelah merasa aman, masyarakat yang bermukim di dalam sungai keluar, karena memang Sungai Kapuas adalah jalur utama. Sejak saat itu perkampungan di pinggir Kapuas mulai tumbuh,” ucap Amrin.
    Apa yang disampaikan Amrin digambarkan oleh P.J. Veth dalam bukunya Borneo Bagian Barat, Jilid I yang dipublikasikan pada 1854. Dia menyebut jumlah penduduk Sanggau sekitar 30.000 orang. Veth tidak banyak menyebut perkampungan di Sanggau waktu itu, hanya tiga permukiman yang menjadi perhatiannya. Negeri induk Sanggau di muara Sungai Sekayam dengan jumlah rumah diperkirakan 120 buah. Kemudian Samarangkai/Semarangkai, terletak di hilir negara induk dengan 37 rumah. Selanjutnya Mengkiang di Sungai Sekayam dengan 34 rumah.
    Berbeda dengan P.J. Veth, H.P.A Bakker dalam Het Rijk Sanggau yang diterjemahkan dari buku Indische Taal; Land; en Volkenkunde menjelaskan lebih rinci tentang perkampungan di Sanggau. Bakker lebih tertarik pada aliran Sungai Sekayam yang bermuara di Kapuas. Dia menyebut Sungai Sekayam adalah urat nadi Kerajaan Sanggau waktu itu. “Sebab kemunculan Ibu Kota Sanggau dimungkinkan karena adanya sungai ini, dan tanpa Sungai Sekayam yang mengalir ke situ, tempat ini tidak dapat hidup.”
    Masih di muara Sekayam, di bagian yang lain dari pusat pemerintahan, Bakker menyebut ada Kampung Tanjung dan Silat. Di ujung barat, terletak Pasar Cina Kecil.
    Senada dengan Veth, Bakker mengatakan Semarangkai merupakan permukiman kedua terbesar di Sanggau setelah pusat pemerintahan. Di bagian hulu Bakker menyebut ada kampung baru yang dinamai Pengaladi/Penyaladi. “Lebih jauh ke hulu ada Ingir/Ingis dan Kedukul yang dekat dengan perbatasan dengan Sekadau.”
    Sama dengan daerah lain di Indonesia pada umumnya, perkampungan di Sanggau dominan diambil dari nama sungai dan tanaman. Pemerhati budaya dan sejarah Sanggau, Amrin Zuraidi Rawansyah menyebut nama-nama daerah itu antara lain, Nanga Biang, Kedukul, Liku yang berasal dari nama Sungai Biang, Sungai Kedukul, dan Sungai Liku. Sungai-sungai itu bermuara ke Kapuas. Lain lagi dengan Sungai Muntik, Sungai Tapang, Pelaik. Perkampungan tersebut diambil dari nama buluh muntik, pohon tapang, dan pohon pelaik. Ada juga perkampungan yang diabadikan dari suatu peristiwa. “Contohnya Kayu Tunu. Sebelum menjadi perkampungan, kawasan itu merupakan hutan yang ketunu akibat pergesekkan kayu sehingga menimbulkan panas dan percik api, kemudian melolat ke hutan di sekitarnya,” Amrin menceritakan.
    Sebagai jalur utama transportasi, pada awalnya rumah-rumah penduduk menghadap ke Kapuas. Saat ini, setelah jalan raya menggantikan peran tersebut, banyak rumah yang membelakangi sungai. Bahkan siok (bagian rumah paling belakang sebagai tempat mencuci piring) menjorok ke sungai sehingga limbah rumah tangga terbuang langsung ke Kapuas. Meskipun begitu, sungai tetap tidak tergantikan untuk mandi, besosah, bebasok, mencari ikan, kayu api, dan moda transportasi. Sebagian masyarakat tetap mempertahankan keberadaan jamatn. Tidak hanya untuk buang air, besosah, atau bebasok, jamatn juga difungsikan sebagai tambatan perahu bahkan dermaga.
    Sebagai sumber air bersih, sudah jarang masyarakat memanfaatkan air Kapuas. Bagi yang tidak teraliri air PDAM (perusahaan daerah air minum), mereka mengambil air dari anak-anak sungai atau lebih memilih air hujan. Untuk keperluan lainnya di rumah, air Kapuas masih digunakan. Namun, jarang lagi masyarakat yang encibok air. Lebih banyak menggunakan mesin penyedot untuk mengaliri air dari sungai ke rumah.
    Perkembangan perkampungan di Sanggau khususnya Kapuas dan Mukok tidak banyak berubah sejak abad 19. Konsentrasi penduduk dan aktivitas masih didominasi di sisi kibak Kapuas, jika mudik. Begitu juga di sepanjang Sungai Sekayam, lebih banyak kecamatan di sebelah kibak sungai yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.

Pasang Surut
    Pasang surut Sungai Kapuas di Sanggau sampai ke hulu berbeda dengan di muara. Di muara, Pontianak, Kubu Raya, dan sebagian Mempawah pasang surut sungai terjadi hampir setiap hari, sesuai kondisi air laut. Sedangkan di perhuluan, pasang surut dipengaruhi musim. Jika intensitas hujan meningkat muka air sungai naik. Sebaliknya, jika kemarau, debit air berkurang. Bahkan kering sampai ke dasar sungai.
    Saat debit air Kapuas tinggi, masyarakat tidak mencari kayu api di darat. Batang atau cabang yang hanyut diambil untuk kayu api. Mereka biasanya menggunakan perahu, mengayuh melawan arus. Tidak sulit mencari kayu keras yang pantas sebagai kayu api. Mereka cukup menghampiri kapar atau rumah kapar yang hanyut dengan perahu. Kapar adalah sampah organik yang hanyut di sungai terdiri atas batang, cabang, dan ranting. Sementara rumah kapar adalah kumpulan kapar yang menyatu.
    Cabang dinaikkan ke perahu, sedangkan batang diikat dengan tali kemudian ditarik ke pinggir. Kadang batang langsung ditotak menggunakan gergaji belidak. Pekerjaan ini membutuhkan dua orang untuk memegang kedua ujung gergaji kemudian ditarik dan didorong agar kayu tergesek. Baru setelah itu kayu dipiyak menggunakan kapak untuk kemudian dijemur. Sedangkan cabang, cukup ditotak dengan parang sebelum dijemur. Mencari kayu api dengan perahu dilakukan saat air tidak terlalu garis. Saat air sungai garis, apalagi engkujuh, mereka tidak melakukannya.
    Bagi nakbiak sungai adalah tempat begurau. Saat pasang, jika air pena/penda menyentuh kenamikng (tebing pembatas sungai dan daratan), mereka biasanya bermain dengan cara merojok dari atas pohon ke sungai. Ada dari mereka yang mengikat liana atau tali ke batang pohon yang menjorok ke sungai, kemudian bergelayutan. Mereka melepaskan pegangan pada liana, menghempaskan dirinya ke sungai.
    Pada lain masa, anak-anak berenang ke tengah sungai, naik ke rumah kapar. Mereka mutik biji karet dan pelanyau, kemudian berenang lagi ke tepian. Selanjutnya mereka bedodas ke hulu dari pinggir sungai untuk menunggu rumah kapar yang hanyut. Itu bisa dilakukan berkali-kali. Baru berhenti kalau colap, tubuh engkotok, dan jemari tangan sudah kosat (telapak tangan mengerut karena dingin). Selain karena alasan tersebut, nakbiak baru berhenti bermain di sungai jika orang tua menciak/enciak (berteriak dengan suara melengking) meminta mereka pulang.
Anak-anak bermain saat Kapuas pasang. Mereka mengikat tali ke cabang pohon kemudian bergelantungan. (foto: Hendy)

    Saat kemarau panjang, di kawasan tertentu, Kapuas akan kering sampai ke dasar. Pada saat itu di Sanggau, dasar Kapuas yang berpasir kerikil, dapat dilihat mulai dari Muara Sekayam ke hulu, sampai ke Muara Engkayas. Dasar sungai yang kering menjadi tempat wisata. Ada yang bermain sepak bola atau hanya begoyap. Bahkan sering diadakan keramai tujuh belasan di tempat itu. Warga setempat menyebut kondisi itu sebagai kerosik timul.
    Selain bermain di kerosik timul, saat kemarau ada anak-anak yang enciraw (mencari benda yang masih dapat digunakan atau bernilai di pinggir sungai). Mereka menyusuri pinggir sungai mencari apa saja. Antara lain koin, suduk, batu dan mata pancing, serta benda lainnya yang masih dapat digunakan. Benda-benda tersebut tenggelam saat pasang, baru dapat ditemukan ketika sungai kering.
    Pinggir sungai kering dengan kemiringan yang curam dimanfaatkan juga oleh sebagian anak sebagai perosotan. Mereka membawa air ke bagian atas, dekat kenamikng, kemudian duduk dan membiarkan dirinya meluncur ke sungai. Berulang kali meluncur di antong (tempat) yang sama, tanah akan cekung seperti parit. Jika cekungan itu kering, mereka akan membawa air untuk membasahinya dari atas agar licin, kemudian meluncur lagi.
    Koti pun baka, sungai tetap sebagai ruang terbuka hijau yang luas dan lengkap, anugerah dari Yang Maha Kuasa.

Nelayan
·      Perahu
    Dalam mencari ikan, banyak cara digunakan oleh nelayan di Sanggau. Alat transportasinya beragam, tetapi berciri. Misalnya perahu, perbedaan nama diklasifikasikan dari cara molah. Ada tiga jenis perahu yang umum digunakan nelayan di Sanggau. Perahu tobok, perahu timaw, dan perahu papan. Perahu tobok, dibuat dari batang kayu yang dibelah kemudian dilubangi. Perahu timaw juga dibuat dengan batang kayu yang dilubangi. Bedanya perahu timaw ditambah papan pada kedua sisinya untuk memperbesar ukuran. “Perahu papan, semua bahan baku dari papan,” kata Amrin Zuraidi Rawansyah.
    Sudah lumrah jika perahu disertai dengan perlengkapan utama seperti dayung. Namun, ada pula perahu yang dilengkapi dengan kemudi ensurong/surong. Perlengkapan ini malar dipakai oleh nelayan yang merawai. Kemudi ensurong dibuat dengan papan yang panjangnya sekitar 50-100 centimeter dan lebar sekitar 20 centimeter. Kemudi ensurong ditaruh di putn perahu. Sebagian sisinya di dalam air, bagian atasnya dilubangi untuk memasang kayu. Kayu tersebut melintang di atas perahu. Ujung kayu yang melintang diikat dengan bambu. Bambu tersebut panjangnnya sama dengan perahu. Mengemudikan perahu hanya dengan menarik atau mendorong ujung bambu. Jadi, pengayuh hanya berfungsi untuk memajukan atau memundurkan perahu. Mengatur arah sepenuhnya menggunakan ensurong
    “Bedanya perahu dengan kemudi ensurong dan tidak, dapat dilihat dari posisi orang yang mengayuh. Entik orang yang mengayuh berada di luan berarti menggunakan ensurong. Sebaliknya entik mengayuh dari putn perahu, artinya tidak memakai ensurong,” jelas Amrin.
    Ada perahu bermesin. Ukurannya lebih panjang. Selain sebagai alat transportasi, ada juga nelayan yang menggunakannya. Perahu bermesin di Sanggau berbeda dengan yang digunakan nelayan di muara Kapuas. 
    “Di sekitar muara, di Kabupaten Kubu Raya nelayan menggunakan mesin kato, perahunya pendek. Nelayan di Sanggau sampai Kapuas Hulu mesinnya lebih kecil perahunya pun ramping. Umumnya lebar satu sampai satu meter setengah, panjangnya lima sampai enam meter. Perahu ramping dipilih karena alasan arus. Sungai yang deras memang lebih ideal menggunakan perahu ramping,” Ungkap Amin, teknisi mesin nelayan dan pembuat perahu asal Pontianak.

·      Alat Tangkap
    Di Sanggau saat banjir atau pasang masyarakat sering memasang seruak. Alat tangkap ini khusus untuk ikan kecil seperti seluang, kepek, bantak, jajau, dan yang lainnya. Seruak adalah alat tangkap yang bersifat perangkap berbentuk tabung dipasang berdiri ditopang tongkat yang menancap ke tanah. Dindingnya dibuat dari batang rosam/resam. Tempat menyimpan umpan dibuat dengan bambu yang dipasang di dinding seruak. Bagian buku bambu di luar, sisi lainnya di dalam seruak. Tengah bambu dilubangi tempat menyimpan umpan. Ikan yang memakan umpan akan masuk ke dalam mengikuti lubang bambu sehingga terperangkap di seruak. Ikan tidak dapat keluar karena di ujung bambu di bagian dalam seruak dipasang surai berbentuk kerucut. Sekarang, seruak banyak dibuat dari botol minuman gosak praktis dan mudah mendapatkannya.
    Selain seruak, ada pukat yang juga menarik untuk ditulis karena banyak jenisnya. Jenis pukat diklasifikasi berdasarkan bentuk, cara menggunakan, dan ikan yang disasar. Berdasarkan jenisnya, paling tidak pukat dibagi menjadi dua. Yaitu pukat ronam dan pukat anyut. “Pukat ronam mencapai dasar sungai. Biasanya dipasang di muara anak sungai. Kadang juga dipasang di tolok. Target utamanya ikan patin,” kata Fendy, warga Pudu, Kelurahan Beringin.
    Pukat anyut penggunaannya dihanyutkan dengan perahu mengikuti arus. Nelayan akan melihat kondisi arus jika hendak menghanyutkan pukat. Air sungai yang garis bukan kondisi baik untuk memukat. Sebaliknya jika air tenang, arusnya tidak garis banyak nelayan menghanyutkan pukat. Pukat anyut menggunakan pelampung agar bagian atas timbul. Pelampung bisa dari bekas selup atau potongan papan. Bagian bawah dipasang batu dari timah agar pukat tidak melayang dibawa arus.
    Lain lagi nganguh. Sama-sama memukat dengan cara mengikuti arus, tetapi nganguh dilakukan pada malam hari. Dari awal malam sampai subuh. Anguh adalah pukat yang menggunakan batang bambu sebagai pelampung, namun tidak putus-putus. Satu batang bambu dipasang sepanjang pukat. Saat nganguh, sambil hanyut mengikuti arus, nelayan memukul-mukul air agar ingar. “Nganguh dilakukan di pinggir. Saat malam biasanya ikan istirahat sebelum bermigrasi ke hulu pada siang hari. Sengaja diingar agar ikan bergerak kemudian ngeradak pukat. Nganguh dilakukan semalaman. Kalau mengantuk nelayan tidur di rangkang. Tidak pulang sampai pagi,” Fendi menjelaskan.
    Pukat juga diklasifikasi berdasarkan ikan yang disasar. Beda ikan, lain pula besar jaring. Ada pukat jajau, seluang, kenyuar, dan pukat kelabau. Paling besar nelayan Sanggau menyebutnya pukat juara. “Pukat juara sering digunakan pada malam hari,” ungkap Fendy.
    Jenis pukat yang klasifikasinya berdasarkan pada jenis ikan hanya memudahkan nelayan membedakannya. Sejatinya, perbedaan jenis itu dapat dilihat dari ripang (lubang jaring). Ripang yang kecil akan mendapat ikan kecil juga seperti jajau dan seluang. Pun dengan ripang besar, targetnya adalah ikan besar antara lain patin atau juara.
    Ada pula imang. Alat tangkap ini juga menggunakan jaring dan bambu. Jika dijontang bentuknya segi tiga. Dua bilah bambu diikat di dekat pangkal. Tidak jauh dari pangkal dipasang bambu pendek disebut kokang. Kokang dipasang ketika bambu sudah dijontang. Fungsinya agar dua bambu panjang sebagai tempat mengikat jaring melebar. Jaring diikat dari ujung bambu sampai ke kokang. Imang digunakan di bibir sungai atau dari atas jamatn. Ripang imang ada yang kecil ada juga lebar, menyesuaikan ikan yang ditarget. Nelayan menggerakan imang mengikuti arus. Jika ada ikan yang mudik melawan arus akan terperangkap di imang.
    Alat tangkap lainnya yang digunakan nelayan di Sanggau adalah posat. Jaring berbentuk segi empat yang ditopang dengan bambu. Berbeda dengan imang, posat tidak digerakkan ke hilir atau ke hulu. Alat tangkap ini hanya ditenggelamkan, dibiarkan beberapa saat baru kemudian diangkat. Targetnya ikan kecil. Antara lain, bilis atau seluang. Bedanya lagi, jika imang menggunakan dua bambu sebagai penopang, sedangkan posat memakai satu bambu. Bambu itu juga berfungsi sebagai pemugut.
    Alat tangkap dengan mata pancing juga beragam. Untuk menyederhanakannya, memancing dapat diklasifikasi menjadi dua. Yaitu tunguk dan tajur. Mancing tunggu maksudnya, pemancing duduk menghadap baur. Sementara tajur maksudnya pancing yang ditinggalkan, kemudian diperiksa pada waktu tertentu.
    Tajur banyak lagi jenisnya. Di antaranya rawai. Mata pancingnya banyak, dipasang berjarak. Mata pancing berukuran besar menyesuaikan dengan target. Rawai ditajur di bagian tengah sungai. Talinya puluhan meter. Nelayan memasang batu sebagai pemberat agar rawai tidak hanyut. Batu di dasar dikobat tali yang disambung dengan bambu. Bambu timbul di permukaan air sebagai kecalak rawai.
    Nelayan biasanya ngabas rawai tiga sampai empat kali sehari. Lolam, tengah hari, behari/bawah ari, dan malam. Perahu untuk merawai menggunakan kemudi ensurong/surong. Tujuannya agar arah perahu stabil, karena saat mengangkat rawai mereka tidak dapat mengarahkan perahu dengan kayuh. Kedua tangannya sibuk melepaskan ikan dari pancing jika bulih, dan memasang umpan.
    Nelayan Sanggau juga membedakan sebutan memancing udang dan ikan. “Ngael udang disebut ngunyat. Kalau ikan biasa saja, ngael ikan. Tapi kalau ngael ikan kecil seperti seluang, kepek, bantak, dan lainnya disebut nyimpar,” Rahmat, warga Kampung Ensilat menjelaskan.
    Ada tajur jenis lain dengan mata pancing tunggal. Tajur tunggal ini dipasang di pinggir sungai. Nelayan membedakannya menjadi dua, tergantung targetnya. Jika targetnya ikan besar disebut rabay. Yaitu tajur tunggal yang dipasang dengan bambu berukuran dua meter atau lebih. Bambu ditancapkan ke tanah.
    Tajur tunggal lainnya tidak ada penyebutan khusus, mata pancing diikat ke kayu atau bambu panak. Terkadang hanya diikat menggunakan ranting pohon yang tumbuh dipinggir sungai. “Rabay dan tajur tunggal ini menggunakan umpan hidup. Bisa ikan, bisa juga kocai. Mata pancing tidak sampai ke dasar. Umpan dibiarkan mengapung di permukaan air. Memasangnya sore, karena malam hari ikan ke pinggir, ke tempat mabuk dan arus tidak terlalu deras,” papar Rahmat.
    Selain jenis-jenis yang dipaparkan tersebut alat tangkap lain yang umum adalah jala. Tidak perlu dijelaskan secara detail karena jala lumrah di banyak tempat. Dan, masih banyak lagi alat tangkap lainnya yang digunakan nelayan Kapuas maupun Sungai Sekayam di Sanggau.
Imang sebagai salah satu alat tangkap yang digunakan nelayan di Sanggau (foto: Rahmat)
·      Bauk
    Ada waktu tertentu yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat pinggir sungai. Yaitu ketika ikan mudik dalam waktu bersamaan dalam jumlah banyak. Kejadian ini disebut bauk. Saat itu ramai-ramai masyarakat turun ke sungai sambil membawa alat tangkap, apa pun jenisnya. Ada yang membawa posat, imang, jala, atau pukat. Ikan yang mudik lebih banyak ikan kecil dari jenis seluang dan bantak. Bauk sering terjadi ketika kemarau yang panjang atau saat pasang rayap. Pasang rayap adalah banjir yang debit sungai di atas kenamikng.
    Bauk tidak berlangsung lama. Biasanya satu pekan. Namun, ada waktu-waktu tertentu bauk mencapai puncaknya. Ketika ada nelayan yang mengetahui kondisi ini, mereka akan mangkas memberi informasi kepada warga lain. “Bauk…..bauk….bauk,” demikian teriakannya. Warga di darat yang mendengarnya serta-merta turun ke sungai, tidak peduli usia dan gender. Selain turut menangkap perempuan biasanya bertugas mensiang ikan.

Foklor
    Di Sanggau ada legenda gulong uwi. Makhluk yang dipercayai oleh sebagian masyarakat sebagai penghuni Sungai Kapuas. Gulong artinya gulung, sedangkan uwi adalah rotan. Bagian perut atau bawah punggung makhluk ini sangat tajam.
    “Jika melintasi kerikil, kerikil menjadi tepung. Melintas di atas batu, batu terbelah. Kalau kita guring kemudian gulong uwi melintas di atas perut, kita ajom ngasa perut sudah putus,” cerita Samsudin (60).
    Legenda ini tidak banyak diketahui generasi yang lahir era 90-an.  Ilham (22) contohnya, saat ditanya tentang gulong uwi, dia mengaku tidak mengetahuinya. “Mada kalak ninga ah,” jawabnya.
    Ada pula cerita rakyat yang berkaitan dengan sejarah. Tentang Kerajaan Pontianak yang gagal menyerang Sanggau. Rakyat Kerajaan Sanggau waktu itu bersuka cita kemudian mengabadikannya dalam pantun. J.U. Lontaan menulisnya dalam Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, Edisi I tahun 1975. Berikut pantunnya:
Akar sait berlilit-lilit
Melilit di belakang kuta
Sultan Syarif mudik bebalik
Takut ditemak lela bujang melaka (*)

    Kegagalan penyerangan terhadap Kerajaan Sanggau dikaitkan dengan pertahanan di hilir pusat pemerintahan, di kawasan Pancur Aji. Sebuah kelokan sungai sekaligus teluk yang ini masuk dalam administrasi Kelurahan Beringin. Budayawan Sanggau, M Rivai Nafis mengabadikannya dengan lagu. Dalam lagu tersebut dia juga menyebut legenda lainnya. Yakni, sebuah sistem pertahanan di hulu pusat pemerintahan di Batu Lamai Dara. Batu yang menghampar di dasar sungai itu akan terlihat jika musim kemarau. Saat ini Batu Lamai Dara masuk dalam Kelurahan Tanjung Kapuas. Berikut lagu lirik lagu Pancur Aji:
Pancur Aji nama tolok nama munguk
Pakai benteng Negeri Sangau jaman doluk
Musuh nyorang dihalang ulih dua pengompang
Seutas rantai bujur bejontang melintang sungai

Penunguk kedua paling ditakut musuh nang nyorang
Lela keramat bujang malaka siap beperang

Benteng kedua di ulu kota nyaruh caranya
Atas tepian batu ampar lamai dara
Musuh datang digoda rayu dara jelita
Bala penyorang lupak kemaksud larut tegila

Piyak cara supaya perang ajom tejadi
Dikaji dipolah para pendekar beilmu sakti (**)
Lagu Pancur Aji ciptaan M Rivai Nafis, dinyanyikan oleh Juliansyah (sumber: youtube)

    Demikian masyarakat Sanggau, khususnya di pinggir Kapuas merawat ingatan. Selain menceritakan langsung mereka juga mengabadikannya lewat pantun atau lagu. Namun, jika tidak teruskan bukan mustahil foklor tergerus masa. Begitu juga dengan budaya di pinggir Kapuas secara umum. Ancamannya nyata, namun tidak serta-merta terasa. Perkampungan, nelayan, atau pola hidup dapat saja berubah jika lingkungannya tidak dijaga. “Setidaknya ada lima hal yang mengancam Kapuas, perkebunan skala besar, PETI (pertambangan emas tanpa izin), tambang pasir, permukiman penduduk dan industri tanpa pengolahan limbah, serta sampah,” Kiki Priyo Utomo, tenaga pengajar Prodi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura, mengingatkan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar